Selasa, 06 November 2012


Ma’rifatulloh (Mengenal Allah SWT)
Ma’rifatulloh merupakan asas, fundamen atau dasar dari segala aspek kehidupan.

Cara berma’rifat:
a. Dengan menggunakan akal pikiran dan memeriksa secara teliti apa-apa yang diciptakan Allah SWT.
b. Dengan mema’rifati nama-nama Allah SWT serta sifat-sifatNya.

Berma’rifat dengan pikiran
  1. Inti peribadatan kepada Tuhan adalah dengan menggerakan akal dan melepas kekangannya, segera bangun dari tidur nyenyaknya untuk mengadakan perenungan dan pemikiran.

Firman Allah:
Katakanlah, “ Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi” Tidaklah bermanfaat tanda-tanda ( kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.  ( Yunus: 101 ).
Firman Allah:
Katakanlah (Muhammad),” Imbalan apa pun yang aku minta kepadamu,maka itu hanya
kamu. Imbalanku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Saba: 46)
  1. Barang siapa yang mengingkari kenikmatan akal dan tidak suka menggunakannya untuk sesuatu yang semestinya dikerjakan oleh akal itu, bahkan melalaikan ayat-ayat dan bukti-bukti tentang adanya kuasa Allah SWT, maka orang semacam itulah yang patut sekali mendapat cemoohan dan hinaan.
Firman Allah:
Dan berapa banyak tanda-tanda (kebesaran Allah) yang mereka tahui, namun mereka berpaling darinya (Yusuf : 105).
Firman Allah:
Dan setiap kali suatu tanda dari tanda-tanda (kebesaran) Tuhan dating, mereka selalu berpaling darinya (Yasin: 46).
   c. Menganggurkan akal dari tugas yang semestinya itu akan menurunkan manusia itu sendiri  ke suatu taraf yang lebih rendah dan lebih hina dari taraf binatang.
Firman Allah:
Dan sungguh, akan kami isi neraka Jahannam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. ( Al A’raaf : 179).

Taklid adalah penutup akal pikiran
a. Taklid menurut Dr. Wahbah Zuhaili dalam kitabnya Ushul Al-Fiqh Al-Islami
“Taklid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya”, dalil adalah segala sesuatu yang bisa membuat kita mengetahui matlub khaban (kesimpulan).
b. Taklid menurut Imam Al- Ghazali
“Taklid adalah menerima perkataan orang lain tanpa dasar”
Allah SWT sangat memuji sekali kepada orang-orang yang dapat menjernihkan sesuatu tentang hakikatnya, disisihkannya dari benda-benda lain, kemudian dibedakan dan dimurnikan benda-benda itu setelah dibahas, diperiksa, diteliti, dan disaring oleh akal pikirannya.
Firman Allah:
Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, mereka pantas mendapat berita gembira; sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku. ( yaitu ) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang paling baik di antaranya.  Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat ( Az Zumar: 17-18 ).
Allah Ta’ala benar-benar mencela kepada orang-orang yang suka mengekor, mengembik, yakni para ahli taklid yang tidak suka menggunakan akal pikirannya sendiri, yang mereka ikuti hanyalah akal orang-orang lain. Mereka betul-betul beku.
Firman Allah:
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “ Ikutlah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab,” (tidak) kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami (melakukannya).’ Padahal nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apapun, dan tidak mendapat petunjuk ( Al-Baqarah: 170 )
Bidang-bidang pemikiran
Agama islam mengajak seluruh umat manusia agar berpikir dan menggunakan akalnya dan bahkan betapa hebatnya anjuran ke arah itu, tetapi yang dikehendaki dalam islam bukanlah pemikiran yang tidak terkendali kebebasannya. Melainkan di dalam islam dianjurkan untuk berpikir sebatas ciptaan Allah SWT yakni apa-apa ciptaannya yang ada di langit dan di bumi. Tidak sebuah atau sesuatu pemikiranpun yang dilarang oleh Allah SWT kecuali memikirkan dzatNya Allah, sebab soal yang satu ini adalah pasti di luar kekuatan akal pikiran manusia.
Al-Quran Al-Karim sendiri penuh dengan beratus-ratus ayat (bukti dan tanda) yang mengajak kita semua untuk memikirkan keadaan alam semesta yang terbuka lebar dan luas di hadapan kita ini, beserta cakrawalanya yang tak terbatas oleh sesuatu apapun karena sangat besarnya dan tidak ada ujung pangkalnya.
Firman Allah:
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir. tentang dunia dan akhirat. dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: "Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, Maka mereka adalah saudaramu; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang Mengadakan perbaikan. dan Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
( Al-Baqarah: 219-220)

Tujuan pemikiran
Tujuan utama diperintahkannya dalam islam untuk mengadakan pemikiran-pemikiran adalah untuk membangunkan akal dan menggunakan tugasnya dalam berpikir untuk menjernihkan hakikat dan menyelidiki. Sehingga sampailah manusia itu kepada petunjuk yang memberikan penerangan sejelas-jelasnya mengenai peraturan kehidupan, sebab-sebabnya perwujudan, tabiat-tabiat keadaan, dan hakikat segala sesuatu.
Manakala hal itu sudah terlaksana dengan baik, tentu akan dapat merupakan cahaya terang untuk menyingkap siapa yang sebenarnya menjadi Maha Pencipta dan pembentuk semuanya itu. Selanjutnya setelah diperoleh, maka dengan perlahan-lahan akan dicapailah hakikat yang terbesar, yaitu berma’rifat kepada Allah SWT. Jadi kema’rifatan kepada Allah SWT itulah yang sesungguhnya merupakan buah atau natijah daripada akal pikiran yang cerdik dan bergerak terus, juga sebagai hasil dari usaha pemikiran yang mendalam serta disinari oleh cahaya yang terang-benderang seperti proses pemikiran dan pencarian Nabi Ibrahim akan siapakah Tuhannya.
Dirangkum dari buku Aqidah Islam, Sayid Sabiq

Mema’rifati Nama Allah
Mema'rifati Nama Allah berarti mengenal nama-nama dari Allah dengan merenungkan makna dibalik nama tersebut. Nama-nama Allah tersebut terkandung di dalam Asmaul Husna yang merupakan nama-nama baik dari Allah. Dari setiap nama tersebut pasti mengagungkan zat dari Allah itu sendiri. Dan kita wajib mengimani nama-nama tersebut sepenh hati karena nama-nama tersebut datangnya bukan dari manusia tapi dari Allah sendiri sebaga Tuhan Yang Maha Esa. Hukuman bagi orang-orang yang tidak mempercayai nama-nama Allah adalah Neraka.

Penghalang Dalam Mengenal Allah
Meskipun demikian, manusia tetaplah manusia dengan segala sifat baik dan buruk yang terdapat dalam dirinya. Bagi mereka yang dapat memenejemen dirinya mengikuti sifat baiknya, maka hal ini tidak akan menjadi masalah. Namun manakala mereka mengikuti sifat buruk dalam dirinya,
tentulah hal ini dapat menjadi penghalang dalam menempuh jalan menuju pengenalan terhadap Allah SWT. Secara garis besar terdapat beberpa hal (yang harus kita hindari) yang menghalangi manusia untuk mengenal Allah, diantaranya adalah:
1. Penyakit Nafsu (Maradh Ash Syahwah)
    a. Merusak (Al-Fisq)
    b. Sombong (Al-Kibr)
    c. Berbuat Aniaya / Dhalim (Azh-Zhulm)
    d. Dusta (Al-Kidzb)
    e. Banyak Dosa (Katsrah Al-Ma’aashi)
2. Penyakit Ragu (Maradh Asy-Syubhah)
   a. Jahil (Tidak berpengetahuan)
   b. Ragu-ragu (Al-Irtiyaab)
   c. Menyimpang (Al-Inhiraaf)
   d. Lalai (Al-Ghaflah
Bagan sifat penghalang ma'rifatulloh:

Merusak (Al-Fisq)
Fasik adalah orang yang senantiasa melanggar perintah dan larangan Allah, bergelimang dengan kemaksiatan serta senantiasa berbuat kerusakan di bumi. Sifat seperti ini akan menghalangi seseorang untuk mengenal Allah SWT. Allah menggambarkan mengenai sikap fasik ini dalam Firman Allah:
“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik. (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi” (Al-Baqarah: 26-27).

Sombong (Al-Kibr)
Kesombongan merupakan suatu sikap dimana hati seseorang ingkar dan membantah terhadap ayat-ayat Allah, dan mereka tidak beriman kepada Allah SWT.
Allah berfirman:
“Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong” (An-Nahl: 22).
Allah berfirman:
 (Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. (Al-Mukmin: 35)
Sombong ialah batharul haqqi dan ghamthun naas. Batharul haqqi ialah menolak kebenaran dan ghamthun naas ialah memandang rendah orang lain (HR Muslim)
Dari ‘Aisyah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Orang laki-laki yang paling dibenci Allah ialah orang yang keras kepala lagi suka bertengkar (HR Muslim)

Berbuat Aniaya / Dzalim (Azh-Zhulm)
Sifat kedzaliman merupakan sifat seseorang yang menganiaya, baik terhadap dirinya sendiri, terhadap orang lain, ataupun terhadap ayat-ayat Allah SWT. Orang yang dzalim Ialah orang yang mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang Islam tetapi dia melakukan pendustaan dan mengada-ada terhadap ayat-ayat Allah. Oleh karena itu Allah memberikan balasan kepada mereka dengan tidak memberikan petunjuk dan diberikannya peringatan
Mengenai sifat ini.
Allah berfirman:
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As-Sajdah: 22)

Berdusta (Al-Kidzb)
Kedustaan merupakan sikap bohong dan pengingaran. Dalam hal ini adalah membohongi dan mengingkari ayat-ayat Allah SWT.
Allah berfirman:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al-Baqarah: 10)
Hendaklah kamu berpegang pada kebenaran, karena sesungguhnya kebenaran itu menunjukkan kepada kebajikan, dan kebajikan itu menunjukkan kepada surga.

Banyak Dosa (Katsrah Al-Ma’aashi)
Perbuatan-perbuatan kesalahan akan menumpukkan dosa-dosa sehingga akan menutup hati nurani. Hati yang tertutup akan menjauhkan dari hidayah Allah, maka akan semakin jauh mengenal Allah.
Allah berfirman:
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Mutaffifii: 14)

Tidak berpengetahuan (Jahil)
Yaitu orang yang tidak mengambil pelajaran dari firman Allah dan juga tidak berilmu. Kebodohan ini akan menghasilkan syubhat dan memunculkan tindakan kesalahan dalam beribadah.
Allah berfirman:
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungan jawabnya (Al-Isra’: 36)
Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya)” (Al-‘Ankabut: 63).

Ragu-ragu (Al-Irtiyaab)
Hal yang dapat menghalang mengenal Allah adalah keragu-raguan terhadap Al Qur’an dan Islam. Ragu-ragu juga bisa disebabkan tidak adanya hidayah dari Allah tetapi yang utama adalah karena tidak memiliki ilmu Islam secara baik dan juga tidak mempunyai keingintahuan untuk mengetahui Islam.
Allah berfirman dalam:
“Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al Qur’an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat. Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al Qur’an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat” (Al-Hajj: 55).

Menyimpang (Al-Inhiraaf)
Karena melanggar dan menyimpang dari perjanjian dan mengubah kalimat Allah, maka Allah kutuk mereka dan menjadikan hati mereka keras.
Allah berfirman:
“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Maidah: 13)
Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya (HR Hakim)

Lalai (Al-Ghaflah)
Orang yang lalai adalah orang yang sudah mengenal Islam bahkan yang telah melakasanakan perintah Allah seperti shalat tetapi mereka tidak mengerjakannya
Allah berfirman dalam:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Al-A’raaf: 179)











REFERENSI

0 komentar:

HALAMAN

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook OK

Search

Memuat...

The Ganteng'Z

Foto Saya
Bukan87
Kediri, Jawa Timur, Indonesia
Say no to WEDHUS goreng !
Lihat profil lengkapku

OG

Kejahatan bukan terjadi karena niat pelakunya tetapi juga karena ada kesempatan

Followers